Dalam artikel kali ini, kita akan membahas tentang budidaya kako modern, tanaman kakao menghasilkan biji yang dapat diolah menjadi cokelat, yang merupakan salah satu produk makanan yang sangat disukai oleh banyak orang.
Indonesia adalah, salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia, tetapi produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan negara lain.
Sistem budidaya yang diterapkan oleh petani kakao adalah, salah satu komponen yang mempengaruhi produktivitas kakao.
Prinsip agroforestri digunakan dalam budidaya kakao modern. Hal ini berarti bahwa tanaman kakao diintegrasikan dengan tanaman lain untuk menghasilkan keuntungan sosial, ekologi, dan ekonomi.
Anda juga bisa menggunakan mesin pemecah buah kakao, dengan menggunakan mesin tersebut, Anda dapat menghemat waktu dan tenaga dalam mengolah buah kakao menjadi biji kakao siap fermentasi.
Mesin ini, dapat memecah buah kakao dengan cepat dan rapi, sehingga mengurangi kontaminasi dan kerusakan biji kakao.
Untuk menerapkan metode budidaya kakao kontemporer, berikut adalah beberapa langkah untuk budidaya kakao modern yang dapat diambil:
1. Pemilihan Bibit
Bibit kakao yang baik adalah, yang berasal dari sumber benih yang aman, memiliki pertumbuhan yang seragam, tidak terpengaruh oleh hama atau penyakit, dan sehat.
Ada dua cara untuk mendapatkan biji kakao: generatif (melalui biji) atau vegetatif (melalui stek atau okulasi). Metode pertama lebih mudah dan murah, tetapi membutuhkan waktu lebih lama dan menghasilkan tanaman yang lebih bervariasi.
Metode kedua lebih cepat dan menghasilkan tanaman yang sama, tetapi membutuhkan lebih banyak biaya dan pengetahuan. Bibit kakao yang baik harus memiliki karakteristik sebagai berikut1:
- Tinggi bibit sekitar 30-40 cm
- Diameter batang sekitar 0,5-1 cm
- Jumlah daun sekitar 10-15 helai
- Warna daun hijau tua dan mengkilap
- Akar sehat dan tidak terlilit
- Tidak ada gejala hama dan penyakit
2. Persiapan Lahan
Untuk budidaya kakao, lahan harus memiliki ketinggian antara 0-600 mdpl, curah hujan antara 1500-2500 mm/tahun, suhu antara 18-32 °C, pH antara 4-8,5, dan tekstur tanah yang berpasir atau berlempung (1). Setelah lahan dipilih, batu, gulma, dan sisa-sisa tanaman harus dibersihkan.
Setelah itu, lahan harus digemburkan dengan cara dicangkul atau dibajak. Selanjutnya, lubang tanam harus dibuat di tanah dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm dengan jarak antara lubang sesuai dengan pola tanam yang diinginkan.
Lubang-lubang harus diisi dengan pupuk organik, seperti pupuk kandang, kompos, atau biochar, sebanyak 5 hingga 10 kilogram.
Pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, dan memberi tanaman kakao unsur hara.
3. Penanaman Kakao Modern
Penanaman bibit kakao dapat dilakukan pada awal musim hujan, dari Oktober hingga November. Bibit kakao harus ditanam dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan batang. Mereka harus ditanam sedalam leher akar bagian batang yang berwarna lebih gelap dan tegak.
Setelah ditanam, bibit kakao harus disiram dengan air bersih sebelum dilapisi dengan mulsa, yaitu lapisan bahan organik seperti jerami, daun kering, atau serbuk gergaji. Mulsa dapat mempertahankan tanah lembab, menghentikan gulma berkembang, dan mengurangi erosi tanah.
4. Pemeliharaan Kakao Modern
Pemeliharaan tanaman kakao termasuk penyiraman, pemupukan, pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, dan penyiangan.
Penyiraman harus dilakukan secara teratur, terutama selama musim kemarau, dengan frekuensi sekitar dua hingga tiga kali seminggu.
Untuk memenuhi kebutuhan tanaman, pemupukan harus dilakukan dengan dosis yang tepat dan pada waktu yang tepat.
Untuk pemupukan, baik pupuk organik maupun anorganik dapat digunakan dengan perbandingan 60:40. Pupuk organik dapat diberikan setiap tiga hingga empat bulan sekali, sedangkan pupuk anorganik dapat diberikan setiap dua hingga tiga bulan sekali.
Untuk mengendalikan hama dan penyakit, kombinasi teknik fisik, mekanik, biologis, dan kimia harus digunakan.
Ulat penggerek buah, penggerek batang, kutu daun, busuk buah, busuk pangkal batang, dan busuk akar adalah beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman kakao.
5. Panen Kakao Modern
Setelah tanaman berumur sekitar dua hingga tiga tahun, tanaman kakao dapat ditanam. Buah kakao yang siap dipanen, tergantung pada varietasnya, berwarna kuning, merah, atau ungu.
Penanaman buah kakao harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak kulit dan batangnya. Anda dapat memotong buah dengan pisau, gunting, atau alat khusus yang disebut machete.
Buah kakao hanya harus dipanen jika sudah matang, dan buah yang belum matang atau busuk harus dibiarkan di pohon. Tergantung pada varietas dan iklim, tanaman kakao dapat ditanam sekitar tiga hingga empat kali setahun.
6. Pasca Panen
Pemecahan buah, fermentasi, pengeringan, penyortiran, dan penyimpanan adalah semua bagian dari proses panen tanaman kakao.
Segera setelah panen, buah harus dipecah, yang berarti memotong kulit buah dan mengeluarkan biji dan lendirnya. Setelah kulit buah dibersihkan, biji kakao harus dibuang.
Fermentasi adalah, proses di mana lendir biji kakao diuraikan oleh mikroorganisme, yang meningkatkan kualitas dan aroma biji kakao.
Fermentasi dapat dilakukan dalam wadah seperti bak, tong, atau karung, dan waktu fermentasi sekitar lima hingga tujuh hari.
Mesin pemecah buah kakao-Biji kakao harus dibalik setiap hari untuk memastikan proses fermentasi berlangsung merata.
Pengeringan adalah, proses di mana jumlah air dalam biji kakao dikurangi, yang dapat menghentikan pertumbuhan jamur dan mempertahankan kualitas biji kakao.
Alat pengering buatan atau sinar matahari dapat digunakan untuk mengeringkannya, yang membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari.

